Saturday, August 30, 2008

Projek Yahudi Raya di al-Quds


Tidak berlebihan kalau kita mengatakan, negara Zionis merenggut Kota Suci hanya sekali tetapi untuk selamanya. Yahudi Raya telah berlaku di kota al Quds. Itupun berdasarkan dokumen yang dimiliki Israel. Sebelumnya Israel pun memaklumatkan tentang “Revolusi Permukiman di al Quds” dalam kesepakatan yang telah dicapai Olmert dan Gerakan Shas Yahudi. Setelah sebelumnya mereka mengumumkan, mulai tahun 2008 ini adalah tahun pembangunan permukiman bagi Israel di al Quds.


Israel kemudian melancarkan perang perampasan al Quds. Oleh karana itu, tahun ini, al Quds berada dalam situasi yang paling berbahaya dalam menghadapi keganasan yahudi sejak dirampas Israel tahun 1967. Siang dan malam Israel berusaha mengambil al Quds melalui perampasan dokumen kepemilikan rumah-rumah dan tanah bangsa Arab dan melarang warga Palestin membangun ataupun membaiki rumahnya. Sementara di bawah tanah, mereka melanjutkan penggalian terowongan terutama yang berada di bawah masjid al Aqsa dan Kota Lama, dengan menggunakan eskavator dan buldoser bersama sejumlah organisasi yahudi lainya.

Negara Israel bergerak bersamaan dengan lajunya waktu memperluas rampasan di Kota Suci dengan tujuan menguasai secara strategik kota tersebut dan mengeliminir dari semua pengakuan Palestin, bangsa Arab dan antarabangsa. Israel seolah berpacu dengan waktu melalui sejumlah perundingan yang terus menerus diadakan di tengah perpecahan dan kelemahan bangsa Arab, demi menyempurnakan rencananya, sebelum datangnya kebangkitan bangsa Arab dan Islam.

Bukan hanya itu, beberapa hari yang lalu, dengan bersembunyi di balik Komisi Purbakala Dunia yang berada di bawah UNESCO, Israel mengeluarkan keputusan penghancuran gerbang al Mugharibah dan membangun jembatan di atasnya sesuai dengan yang mereka aturkan. Ini adalah lampu hijau buat Israel untuk melakukan apapun yang mereka inginkan.

Sementara itu, Syaikh Raed Shalah, ketua Harakah Islamiyah di Palestina jajahan 48, dialah yang melawan histeria yahudisasi di al Quds. Syaikh Shalah berhasil membuka tabir projek Israel yang menegaskan tentang lima rencana mereka bersama dokumen dan peta yang menjelaskan tentang rencana Israel di kawasan al Buraq (tembok ratapan) serta gerbang al Mugharibah di dalam kawasan masjid al Aqsha. Dengan rencana itu, Israel bermaksud meyahudikan wilayah al Aqsha dengan membangun sejumlah sinagog Yahudi di sebelah barat daya masjid. Israel juga telah membangun jembatan selebar 18 meter di atas al Aqsa dengan menganggap semua kawasan masjid al Aqsa sebagai kawasan umum, milik bersama. Siapapun boleh masuk sebagai awalan untuk menguasainya serta membangun kuil ketiga yang mereka impikan di atas reruntuhan al Aqsa (Al Bayan UEA, 14/8/2008).

Sebelum itu, pusat kajian dokumen mengungkapkan adanya dokumen yang telah disiapkan para pemimpin Zionis untuk menghadapi dunia. Dokumen itu berisi rancangan mereka yang disebut, “Perubahan masa lalu, bukan suatu yang mustahil…Proyek yahudisasi telah dimulai. Pembangunan kuil adalah salah satu bagian dari projek Distrik Kota Lama”. Dan yang menjadi sentral projek dalam dokumen ini adalah al Quds yang diistilahkan dengan “Kaidem Yerusalem” sebagai istilah baru dari “Danau Suci”, satu kesatuan dalam realitas baru al Quds, masjid al Aqsha dan wilayah sekitarnya.

Negara Israel terus menyerang kota suci al Quds dalam aksinya yang disebut warga Palestin sebagai siasat “pembersihan etnik” (ras Arab). Ketika organisasi Israel, Bet’Selem menegaskan tentang hak-hak kemanusiaan, misalnya ia menyebutkan, negara Israel melakukan siasat pembersihan etnis terhadap waga al Quds, sejak beberapa tahun yang lalu. Diantaranya dengan pencabutan KTP al Quds serta larangan pembangunan permukiman, untuk memaksa warga agar tinggal di luar wilayah perbatasan kota al Quds (Al Bayan UEA, 16/6/2008). Dalam laporan HAM-nya, Bet’Selem juga mengatakan Israel melakukan pengusiran etnis terhadap warga Palestin di al Quds.

Presiden Abbas, dalam pertemuan puncak OKI di ibu kota Sinegal, Dakar, yang dihadiri 57 negara beberapa bulan yang lalu, juga menuduh Israel telah melakukan pembersihan etnis di al Quds. Abbas mengatakan, “Rakyat kami di al Quds mengalami operasi pembersihan etnik melalui sejumlah keputusan Israel. Seperti penerapan pajak tinggi dan larangan pembangunan serta ditutupnya sejumlah yayasan Palestin. Ditambah isolasi kota al quds dari Tepi Barat, sebagai akibat dari pembangunan tembok pemisah rasial.”

Mengenai pencabutan KTP al Quds, sebuah laporan menyebutkan, “Pada tahun 2006, beberapa kali pemerintah Israel mengambil paksa KTP al Quds dari 1363 warga. Dengan jumlah ini maka data pencabutan KTP dari warga al Quds meningkat menjadi 500 % sejak tahun 1985. Di sisi lain, Israel melakukan pemalsuan dokumen kepemilikan sejumlah rumah dan tanah. Disamping melarang warga Palestin membangun ataupun membaiki perumahan mereka.” Israel juga merancang untuk membatalkan KTP al Quds dari 40 % warga yang tinggal di luar tembok pemisah rasial. Tindakanya ini bersamaan dengan persiapan negeri Zionis memberlakukan KTP al Quds kepada sebagian warga yang tinggal di dalam tembok rasial.

Tentera Israel juga sering menguasai sejumlah rumah Palestin di al Quds secara paksa atau dirampas. Berdasarkan laporan Radio Suara Palestin, penguasaan terhadap sejumlah rumah al Quds merupakan bagian dari perang Israel serta bagian dari projek yahudisasi yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan demikian jelaslah, sampai saat ini, tidak ada artinya bantahan Israel atas siasat “pembersihan etnis” dan juga atas kejahatan penghancuran dan pembantaian berikut permukiman Yahudi di al Quds.

Hingga saat ini, keikut-sertaan Palestin dalam sejumlah perundingan belum mampu menghentikan laju bulldozer penjajahan Israel. Demikian juga dengan “pilihan damai” bangsa Arab ataupun niat baik mereka untuk mengadakan normalisasi secara utuh dengan Israel, bahkan PBB dan sejumlah organisasi dunia tidak berpengaruh apapun.

Yang harus diingat dari semua itu adalah, serangan yahudisasi secara strategik terhadap Kota Suci, berupa pengambilan secara paksa dan penyelesaian masalah ini, hingga tidak tersisa kesempatan bagi bangsa Palestin dan Arab atau bagi dunia internasional untuk menuntut balik melalui perundingan. Dan agar tidak ada lagi ruang untuk dirundingkan dalam masalah ini.

Semua ini berjalan bersamaan dengan berpacunya waktu dan pertempuran dalam negeri Palestin, konflik internal, masalah jarak antar kota dan wilayah ataupun kamp pengungsian di Tepi Barat. Juga masalah pertentangan perlintasan dan perbatasan Gaza.

Yang paling mengerikan adalah, semua ini terjadi di tengah kecaman sejumlah negara Arab dan Islam. Aneh, ajaib dan tak bisa dipercaya…!

No comments: